Air Bersih dan Sanitasi Masih Menjadi Tantangan Utama di Desa Penunjang KTM Belitang

Meskipun berbagai upaya pengembangan terus dilakukan di Kawasan Transmigrasi (KTM) Belitang, akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak masih menjadi permasalahan utama di sejumlah desa penunjang. Kondisi tersebut dibahas dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perwakilan dari 11 desa penunjang KTM Belitang dan dilaksanakan di Balai Desa Mujo Rahayu pada Rabu, 5 November 2025.

FGD ini dipandu oleh Nikie Astorina YD, SKM, M.Kes, selaku Ketua Tim Ekspedisi Patriot 1 Belitang, dan dihadiri oleh perangkat desa serta perwakilan masyarakat dari desa-desa penunjang KTM. Kegiatan ini juga melibatkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten OKU Timur sebagai pemangku kepentingan utama dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Salah satu peserta yang turut hadir adalah Cindy Kurniasari, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, yang juga merupakan anggota Tim Ekspedisi Patriot dan berpartisipasi aktif dalam diskusi.

Dalam FGD tersebut, peserta menyampaikan bahwa sebagian besar desa masih mengandalkan sumur gali dan sumur bor sebagai sumber utama air bersih. Namun, kualitas dan ketersediaan air di wilayah tersebut masih belum konsisten. Curah hujan yang tinggi kerap menyebabkan air menjadi keruh, sementara musim kemarau yang berkepanjangan berdampak pada berkurangnya ketersediaan air secara signifikan. Akibatnya, air yang tersedia di banyak wilayah umumnya hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan belum memenuhi standar sebagai air minum.

Perwakilan dari Desa Harjo Mulyo menjelaskan bahwa hasil pengujian kualitas air dasar yang dilakukan bekerja sama dengan puskesmas setempat menunjukkan bahwa air di desa tersebut belum aman untuk dikonsumsi. Kondisi ini menegaskan perlunya dukungan melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS). Permasalahan serupa juga dilaporkan oleh Desa Tanjung Kukuh, yang hingga saat ini belum memiliki akses PAMSIMAS serta menghadapi keterbatasan jumlah dan distribusi sumur rumah tangga yang belum merata.

Selain persoalan air bersih, isu sanitasi juga menjadi topik penting dalam diskusi. Sejumlah desa melaporkan masih terbatasnya akses jamban layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, serta praktik pembuangan air limbah domestik langsung ke pekarangan rumah. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Melalui FGD ini, desa-desa penunjang KTM menyampaikan harapan akan peningkatan akses fasilitas PAMSIMAS, penguatan dukungan pengujian kualitas air, serta pendampingan sanitasi yang berkelanjutan sebagai bagian dari upaya peningkatan kesehatan masyarakat di kawasan KTM.