Selasa, 26 Agustus 2025 Tim I Ekspedisi Patriot Undip menjejakan kaki di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Tim yang diketuai oleh Anis Kurniasih, S.T., M.T. dan beranggotakan Gabriel Julian Yogananda, S.Sos., Vania Gustiansyah, S.P.W.K., Dyfan Putra Perkasa, S.T., serta Hanna Mutiara Debora Nainggolan ini ditempatkan di locus Simpang Rimau-Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan dengan misi utama untuk melakukan penelitian dan pemetaan kondisi nyata Kawasan Transmigrasi Simpang Rimau, mengumpulkan DIM (Daftar Inventaris Masalah), serta evaluasi potensi kawasan transmigrasi. Hasil akhir penelitian tersebut akan dituangkan ke dalam Dokumen Rekomendasi Evaluasi Kawasan yang diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan di semua sektor sehingga pembangunan kawasan transmigrasi dapat diarahkan secara inklusif, berbasis riset nyata, berkelanjutan, dan memperhatikan potensi asli daerah.
Program Ekspedisi Patriot digagas oleh Kementerian Transmigrasi sebagai usaha untuk ikut mensukseskan salah satu Asta Cita Presiden Prabowo, yakni reformasi transmigrasi. Paradigma baru transmigrasi tidak lagi memperbolehkan pemindahan sekelompok orang dari daerah padat penduduk ke daerah baru yang jarang penduduk. Paradigma tersebut mendefinisikan ulang transmigrasi sebagai proses transfer ilmu pengetahuan berbasis riset untuk mengembangkan daerah transmigrasi menjadi pusat ekonomi baru. Jika dirunut jauh paradigma ini akan bermuara pada ketahanan pangan nasional.
Sejalan dengan visi di atas, Tim Ekspedisi Patriot I Undip menjelajah 20 desa di Kecamatan Muara Kelingi dan 19 desa di Kecamatan BTS Ulu. Dua kecamatan tersebut dipilih menjadi locus ekspedisi ini karena ternyata–selama rata-rata 25 tahun kawasan transmigrasi ini berdiri–banyak tantang yang belum terselesaikan. Infrastruktur dan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah bersama kawasan ini.
Melokal Bersama Masyarakat
Brainstorming dimulai dengan mempelajari kawasan transmigrasi lewat dokumen-dokumen sekunder yang tersedia. Langkah selanjutnya, Tim I terjun ke lapangan dan berkelana ke 20 desa untuk melakukan wawancara dan observasi langsung keadaan sosial-budaya, ekonomi, infrastruktur, dan kelembagaan di setiap desa. Observasi dan wawancara ini bertujuan untuk memahami sendi-sendi kehidupan masyarakat, seperti akses ke air bersih, akses ke pendidikan, melihat kondisi jalan, jembatan, serta perumahan warga, kondisi sanitasi, mengamati pola mata pencaharian warga, dan bermacam hal lain. Tim juga menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan warga-warga lokal untuk mengetahui apa yang menjadi keresahan dan harapan mereka terhadap kondisi desa sekarang. Observasi dan wawancara ini disambut baik oleh pemerintah desa yang turut serta menyediakan data-data yang dibutuhkan oleh tim.
Infrastruktur menjadi masalah paling mendesak untuk ditangani. Banyak desa yang belum memiliki akses jalan yang layak. Tanah merah dan kerikil yang bisa dilewati jika kering saja. Jika hujan datang, jalan tersebut sama sekali tidak bisa dilewati. Padahal jalan menjadi organ vital untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat. Banyak akses ke kebun dan desa-desa tertentu yang hanya bisa dilewati oleh motor. Bahkan, ada desa yang hanya bisa diakses lewat jembatan gantung. Mobil tidak bisa masuk ke desa tersebut. Jalanan yang layak harus menjadi perhatian utama pemerintah daerah karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan memangkas biaya serta waktu perjalanan.
Selain akses jalanan, infrastruktur lain dan fasilitas umum juga menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan. Salah satu desa di pojok paling selatan Kecamatan Muara Kelingi masih kesulitan untuk mengakses internet. Belum ada satu tower internet pun yang dibangun di desa itu. Warga di sana terpaksa menggunakan Starlink dari dana swadaya demi mengakses internet. Padahal di zaman serba teknologi ini, akses ke internet menjadi tonggak vital kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh informasi pembangunan desa menuntut dukungan internet. Bahkan, tim pun sempat kesulitan untuk berdiskusi dengan kepala desa lewat WhatsApp.
Melihat kondisi desa-desa yang ada, Ekspedisi Patriot diharapkan dapat menjadi jembatan antara tantangan yang dihadapi masyarakat dengan solusi yang tepat sasaran. Sebelum membicarakan kawasan transmigrasi menjadi daerah ekonomi baru, ada masalah-masalah nyata yang harus diselesaikan demi menunjang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Masalah yang sejak kawasan transmigrasi ini dibuka belum diselesaikan secara tuntas. Meminjam adagium terkenal yang berkata “pendidikan hendaknya jangan menjadikan seseorang berdiam di menara gading, namun harus merumput ke masyarakat” yang sejalan dengan visi UNDIP Bermartabat UNDIP Bermanfaat, Ekspedisi Patriot menjadi saksi komitmen Undip untuk terus bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan bangsa.
