Kebijakan Nasional Pengendalian Vektor Terpadu

Kebijakan Nasional Pengendalian Vektor Terpadu

Semarang - Penyakit malaria, demam berdarah,  filariasis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan masih menjadi KLB, menyebabkan kematian serta kecacatan.  Ancaman risiko penyakit tular vektor dan zoonotik yang secara global dan nasional masih sangat tinggi (>70% EID global adalah zoonosis termasuk penyakit tular vektor dan reservoir).  Terjadinya perubahan iklim, lingkungan dan perilaku manusia  dapat mempengaruhi pola penularan yang terkait dengan musim, resistensi agent (virus , parasit, plasmodium dll) dan resistensi vektor dan perubahan bionomik vektor.  Hal ini disampaikan oleh  drh. Misriyah, M. Epid, Kasubdit Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit,  Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang disampaikan pada  Kuliah Tamu di Fakultas Kesehatan  Masyarakat, Universitas Diponegoro di Semarang, 6 Maret 2018.

Misriyah menyampaikan bahwa salah satu kendala yang dihadapi Indonesia adalah gambaran tentang vektor dan reservoir  penyakit secara nasional belum lengkap.  Oleh karena itu, riset diperlukan untuk membantu meningkatkan program pengendalian penyakit tular vektor dan zoonotik dalam hal to  detec, to preventif dan to respon. Misriyah menjelaskan lebih lanjut bahwa vektor  dan Binatang Pembawa Penyakit (BPP) terdapat di seluruh wilayah Indonesia, termasuk dalam katagori vektor (seperti: nyamuk, pinjal dan  keong ), vektor mekanik (seperti: lalat dan kecoa ), dan binatang pembawa penyakit (seperti: monyet, anjing, kucing, tikus, kelelawar, burung).  Terdapat 26 jenis vektor malaria di Indonesia yang telah dikonfirmasi.

Tantangan dalam pemberantasan penyakit menular ditularkan vektor dan binatang pembawa penyakit antara lain penanggulangan vektor yang tidak optimal (fogging salah sasaran,tempat dan waktu, distribusi LLIN dll) dan kurangnya keterlibatan masyarakat;  penggunaan insektisida yang tidak rasional dan masih menjadi prioritas utama; terjadinya resistensi vektor terhadap insektisida; data vektor belum digunakan dalam pengambilan keputusan/evaluasi; masih minimnya data vektor (resistensi vektor, pemetaan dan bionomik vektor, sibling spesies dan mekanisme terjadinya resistensi pada vektor, transovarial,kapasitas vektor);  perbedaan endemisitas antar wilayah di Indonesia yang beragam; belum terlaksananya kegiatan surveilans vektor sehingga masih terjadi KLB untuk beberapa penyakit TVZ antara lain DBD, malaria, cikungunya,  dan surveilens vektor dan upaya pengendalian vektor harus memperhatikan habitat, perilaku, konfirmasi dan resistensi, serta perlu inovasi dari ahli epidemiologi untuk mengatasi penyakit tular vektor dan zoonotik. 

Berpijak dari tantangan tersebut, maka upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menurut Misriyah menggunakan pendekatan Pengendalian Vektor Terpadu (PVT), yaitu suatu pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan azas keamanan, rasionalitas dan efektifitas pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kelestarian keberhasilannya (sesuai definisi Permenkes 50/2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan untuk Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit serta Pengendaliannya).

Kuliah tamu merupakan agenda rutin tiap tahun, dihadiri oleh dosen dan mahasiswa peminatan epidemiologi dan entomologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Dari kegiatan tersebut mahasiswa memperoleh pemahaman tentang pentingnya pengendalian vektor harus dilakukan secara terintegrasi/terpadu agar lebih efektif,  ekonomis,  berkelanjutan dan cakupan yang luas. Selain itu, keberhasilan Pengendalian Vektor Terpadu harus didukung dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan dan komitmen yang tinggi Lintas Sektor dan Lintas Program. (Humas FKM Undip)


(FKM-UNDIP/HUMAS)


NEWS
website masih dalam perbaikan